Amien Wangsitalaja
--esti
kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai
aku
dengan perahu sampanku
pernah sangat setia menyibak riak
menyisir nostalgia
kala angin semilir atau kencang
kala mentari hangat atau menyengat
dan air pasang
dan air surut
begitulah
terlalu aku menyanjung sampan
menggauli tanjung
kerana bagiku
riwayat sungai
dan ketenangan
amatlah berarti
tapi kenapa
kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai
Amien Wangsitalaja
intiplah bulan itu, ukhti
kerana ia tersenyum
saat kurangkum dalamnya dekap
dan kau mulai bercerita
dengan ceria
tentang tempat
yang purnama bisa makin ada makna
“di kotaku” katamu
ya, di kotamu
di tubuh kotamu
di tubuhmu
dan tidakkah kaulihat
aku sudah mulai membuka pintu
menatap kota
menatap tubuh kota
menatap tubuhmu
“ada makna” kataku
dan kau tersenyum
bersama bulan yang terlihat
dan dalamnya dekap
ya
Amien Wangsitalaja
Habiba dan Pencuri (1)
habiba, kucuri senyum kecilmu
dari dalam keseronokan rumah
yang mengunci sejarah
dan mengemas dongeng sebelum tidur
saat itu
aku masih sering melucu
mengangankan pintu kan mengurungku
habiba, aku telah meraba jendela
saat kuhirup aroma bibir mempelai
yang mengingatkanku pada hujan
yang tak mungkin bisa ditahan
habiba, barangkali delik matamu
tepat menghunjam di jantung sufiku
tapi sempatkah kaukenal
sederhananya angan pencuri?
Habiba dan Pencuri (2)
kau mengingatkanku pada mimpi
yang urung kutafsirkan kemarin malam
begitulah, setiap kuselidik bibirmu
dengan lukisan tipis dari air ilmu
aku tergetar untuk memungut kembali
khasanah nafsu
yang pernah kusimpan di guci waktu
Amien Wangsitalaja
Sketsa Gempa Sketsa Keluarga (1)
zaujati, inikah rumah kita?
dinding batu runtuh
meja tamu tak lagi utuh
inikah ranjang yang kemarin?
hilang tanda rindu berpagut
Sketsa Gempa Sketsa Keluarga (2)
ayah
aku dihantui guruh batu
dan kabut debu
saat itu
aku merasakan hati ibu
ayah
ambilkan buku catatanku
di bawah reruntuh dinding dan pintu
saat itu
hadirmu sangat berarti bagiku
Sketsa Gempa Sketsa Keluarga (3)
aku akan membangun rumah baru
kelak kautahu
rumah yang kaurobohkan dahulu
menyibak pondasi rindu
Amien Wangsitalaja
Perawan Lamin 1
--anna bell
mungkin kauherankan sugunku
ketika kumasuki lamin
dan kusaksikan engkau menari
menari
mengumpulkan mimpi
aku tertegun
pada peluh yang kausangkal
dapat meneguhkan syahwatku
dan sementara geliat tubuhmu
mengetuk-ngetuk lantai
aku tegak
dalam syahwat
dalam sugun
___
lamin: rumah panjang orang Dayak
Perawan Lamin 2
kupanggil saja kamu anna
tapi kamu memang manis
duduk di sisi lamin
menyorongkan manik-manik hati
aku terpedaya
tak kuasa menawar harga rindu
aduh
kupanggil saja kamu anna
kerana aku ingin melihatmu menari
mengepakkan lengan
menyibakkan kaki
aku silap
tak kuasa menjinjing angau
aduh
Amien Wangsitalaja
mengapa harus iri
pada eusideroxylon zwageri
sedang senyum yang pernah kaugenitkan pada sufi
kian menguat oleh hujan dan terik mentari
ini tentu bukan mimpi
saat kusentuh tangga lamin yang bahari
aku telah belajar menakik hati
dan kupastikan sesaat lagi
rambutmu menyibak menggerai
kerana aku mulai mendaki
___
eusideroxylon zwageri: ulin
Amien Wangsitalaja
“bucaros rhinoceros
ngangkasa nerobos eros”
biarkan aku terus menyanjungmu, puteri
dan kuselipkan bulu enggang di sisi kiri
engkau tahu
dan harus tahu
dalam bujukan metafisika yang jalang
aku selalu saja kembali merasa lajang
___
bucaros rhineceros: burung enggang