Share |

The Spirit of Mecca

19.58 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (11)

Amien Wangsitalaja


--kutandai, inilah ranah sufi

di kota tempat kita menangkar
asmara
aku berhasil
mengukur kerudungmu yang lebar
mengukur rahasia

aku melamunkan kiswah
dan hitam hajar
aku melamunkan hatimu
yang sejak dari ruknul yamani
sudah kuincar

inilah
ranah sufi
bisikku pada gamismu yang besar
saat hujan membuat sadar
ada syahdu datang berdenyar

(saat itu
aku teringat pada sejarah
di kota haram
gerimis pun jarang tumpah)

ssst, ini rahasia
”aku menemukan marwah”
”aku menemukan mar-ah”
lihatlah
kepalaku
tersungkur
di jabal nur
di jabal rahmah

dan di ghari hira
inilah

Label: ,

Mendirikan Malam

19.57 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (3)

Amien Wangsitalaja

Mendirikan Malam 1

aku
yang pertama mendengar dendang dinda
pada malam
yang kita ingat ia pernah dibagi tiga

ini mungkin pada sepertiga yang kedua
saat jam beranjak dari angka kosongnya
aku mengaduk tasawuf akhlaq
di dalam tiris nafasmu
yang membasahi ceruk rindu

kemarilah kubisiki, sayang
ada hasrat berundan-undan
semizan syariat seribu bulan

ini mungkin pada sepertiga yang terakhir
kuseduh dzikir kuramu syi’ir
di palung mahabbahmu

di palung mahabbahmu
laut asin mengingatkanku pada khidzir
aku berjanji
aku tidak akan banyak bertanya padamu
senyampang malam
saat kita sepakat melubangi sampan

kemarilah sayang, kubisiki



Mendirikan Malam 2

aku
meminangmu untuk menjadi ‘aisyah
sehabis khadijah

o sayangku, yang kemerah-merahan
tertunduk diam

kita menghitung detak jam
derit daun pintu
dan desah yang disapukan

kita merundingkan bilangan raka’at
di sepertiga terakhir
malam
dan dengan manja
engkau menawar bilangan dzurriyyat
melebihi ’aisyah melebihi khadijah
sepadan angan

o kurasa
aku ingin memukulmu bertubi-tubi
menggemaskan

Label: ,

Pengantin

19.55 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (5)

Amien Wangsitalaja

Pengantin (1)

aku gemas pada hud hud
yang gemetar mengabarkan pesonamu

aku gemas pada pemilik ilmu
yang berhasil menyatakan
singgasana kecantikanmu
lebih cepat dari kedip bola mataku

dan
aku lebih gemas padamu
kerana engkau 'lah sudi mengunjungi
relung istanaku

maka
kutawarkan lantai hati
yang sejernih kolam
sehingga betis asmaramu
tersingkap



Pengantin (2)

aku memang merencanakanmu
menjadi zulaikha

dan saat itu
aku ingin gamisku sobek
di bagian depannya
di bagian belakangnya

sehingga kita tak perlu
merekayasa perjamuan
agar jemari orang-orang teriris pisau
menyaksikan syahwat yang tampan

Label: ,

Tektonik

19.54 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (2)

Amien Wangsitalaja

makinlah rinduku pada laut
manakala
kauceritakan gesekan lempeng bumi
dan ombak kasihmu
saat itu aku terbiasa
bermain buih di pantai yang asin

“aku menelan ikan
kubuat tersesat di lubuk gelap”
senyummu menyelesaikan cerita
antara terpejam mata

lalu kurasa keringat tetes, meresap
ke tanah yang bergetar
ke episentrum

“besok lagi jangan lupa
menjenguk laut”

Label: ,

Rumah

19.52 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (4)

Amien Wangsitalaja

kurasakan hangat dadamu
hangat dada fatimah
karena kisahku menyerupai bocah
yang berlumuran darah
melintasi gurun
menyeberangi fitnah

o, sapukan nafasmu
segairah nafas ummil bathul
karena aku tak ingin tersungkur
seperti ‘ali, sehabis sahur

mari bersaksi
akulah syahid
engkau syahidah
tanpa ditikam belati
tanpa luka hati

dan kita menjadi tuan dan puan
bagi sejarah
melahirkan bocah-bocah
tanpa racun
tanpa tombak tanpa pedang
tanpa segurat lelah

Label: ,

Di Lantai Ulin

19.51 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (2)

Amien Wangsitalaja


pada suatu ketika

aku memang menghikmati nafasmu
yang tak memburu
di lantai ulin
kamar tamu saat siang
tempat guring saat malam

kita tak merencanakan cinta
tapi matamu
melebihi buluh perindu
yang kuangankan ada dalam gelas
yang kausajikan untukku

”inilah gadis senja yang merana
terpikul kegundahan yang lama
kata mengalir di dada lembutnya
menebar spora, lembar cinta”*)

o, jangan merana
bukankah rembulan pun memilihmu
—kuingat waktu itu
kita seperjalanan
antara samarinda-bontang
dan rembulan sedang teramat terang
melumat wajahmu sepenuh cemburu
dengan sesekali mengintai di bukit
dan sembunyi di balik dahan—

di lantai ulin
kita tak merencanakan cinta
kerana ia tiba-tiba

sebagaimana pada suatu ketika
kita tiba-tiba bisa bersama
menyaksikan belian
di desa jahab di sudut kotaraja
kutai kertanegara
—ceritamu, kakek dari mama
dahulu
seorang dukun belian juga—

dan kau bercanda
”datangi ia
tidur di depan tariannya
mintalah disembuhkan
dari penyakit cinta”

aku berkerut oleh candamu
tapi tak ragu-ragu
”seperti belian
cinta memiliki kekuatan”

pada suatu ketika

___
*) penggalan bait puisi ”Gadis Senja” Fitriani Um Salva
belian: upacara penyembuhan dalam tradisi orang Dayak
guring: tidur (bahasa Banjar)

Label: ,

Kembali

19.50 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (1)

Amien Wangsitalaja

jika aku pantas
menuai bahgia ini
izinkan aku
kembali

dan
kusadap rahsia waktu
yang tlah merapuhkan egoku
di hadapan pesonamu

dan
seperti segarnya pagi
kuasyiki keceriaan
rona fitri

Label: ,

Ramadhan

19.50 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

kupercaya hadirmu
memperbesar kemungkinan
luruhnya angkuh
redamnya dendam

dan bersama waktu
egoku rapuh
leh pesonamu
ramadhan

Label: ,

Hikayat Perahu Sampan

19.49 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

--esti

kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai

aku
dengan perahu sampanku
pernah sangat setia menyibak riak
menyisir nostalgia
kala angin semilir atau kencang
kala mentari hangat atau menyengat
dan air pasang
dan air surut

begitulah
terlalu aku menyanjung sampan
menggauli tanjung

kerana bagiku
riwayat sungai
dan ketenangan
amatlah berarti

tapi kenapa
kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai

Label: ,

Bulan

19.48 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

intiplah bulan itu, ukhti
kerana ia tersenyum
saat kurangkum dalamnya dekap

dan kau mulai bercerita
dengan ceria
tentang tempat
yang purnama bisa makin ada makna
“di kotaku” katamu
ya, di kotamu
di tubuh kotamu
di tubuhmu

dan tidakkah kaulihat
aku sudah mulai membuka pintu
menatap kota
menatap tubuh kota
menatap tubuhmu

“ada makna” kataku
dan kau tersenyum
bersama bulan yang terlihat
dan dalamnya dekap
ya

Label: ,

Habiba dan Pencuri

19.46 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

Habiba dan Pencuri (1)

habiba, kucuri senyum kecilmu
dari dalam keseronokan rumah
yang mengunci sejarah
dan mengemas dongeng sebelum tidur
saat itu
aku masih sering melucu
mengangankan pintu kan mengurungku

habiba, aku telah meraba jendela
saat kuhirup aroma bibir mempelai
yang mengingatkanku pada hujan
yang tak mungkin bisa ditahan

habiba, barangkali delik matamu
tepat menghunjam di jantung sufiku
tapi sempatkah kaukenal
sederhananya angan pencuri?



Habiba dan Pencuri (2)

kau mengingatkanku pada mimpi
yang urung kutafsirkan kemarin malam

begitulah, setiap kuselidik bibirmu
dengan lukisan tipis dari air ilmu
aku tergetar untuk memungut kembali
khasanah nafsu
yang pernah kusimpan di guci waktu

Label: ,

Sketsa Gempa Sketsa Keluarga

19.45 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

Sketsa Gempa Sketsa Keluarga (1)

zaujati, inikah rumah kita?
dinding batu runtuh
meja tamu tak lagi utuh

inikah ranjang yang kemarin?
hilang tanda rindu berpagut



Sketsa Gempa Sketsa Keluarga (2)

ayah
aku dihantui guruh batu
dan kabut debu

saat itu
aku merasakan hati ibu

ayah
ambilkan buku catatanku
di bawah reruntuh dinding dan pintu

saat itu
hadirmu sangat berarti bagiku



Sketsa Gempa Sketsa Keluarga (3)

aku akan membangun rumah baru
kelak kautahu
rumah yang kaurobohkan dahulu
menyibak pondasi rindu

Label: ,

Perawan Lamin

19.44 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

Perawan Lamin 1
--anna bell

mungkin kauherankan sugunku
ketika kumasuki lamin
dan kusaksikan engkau menari
menari
mengumpulkan mimpi

aku tertegun
pada peluh yang kausangkal
dapat meneguhkan syahwatku

dan sementara geliat tubuhmu
mengetuk-ngetuk lantai
aku tegak
dalam syahwat
dalam sugun

___
lamin: rumah panjang orang Dayak




Perawan Lamin 2

kupanggil saja kamu anna
tapi kamu memang manis
duduk di sisi lamin
menyorongkan manik-manik hati

aku terpedaya
tak kuasa menawar harga rindu
aduh

kupanggil saja kamu anna
kerana aku ingin melihatmu menari
mengepakkan lengan
menyibakkan kaki

aku silap
tak kuasa menjinjing angau
aduh

Label: ,

Eusideroxylon Zwageri

19.43 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

mengapa harus iri
pada eusideroxylon zwageri
sedang senyum yang pernah kaugenitkan pada sufi
kian menguat oleh hujan dan terik mentari

ini tentu bukan mimpi
saat kusentuh tangga lamin yang bahari
aku telah belajar menakik hati
dan kupastikan sesaat lagi
rambutmu menyibak menggerai
kerana aku mulai mendaki

___
eusideroxylon zwageri: ulin

Label: ,

Enggang

19.42 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (2)

Amien Wangsitalaja

“bucaros rhinoceros
ngangkasa nerobos eros”

biarkan aku terus menyanjungmu, puteri
dan kuselipkan bulu enggang di sisi kiri
engkau tahu
dan harus tahu
dalam bujukan metafisika yang jalang
aku selalu saja kembali merasa lajang

___
bucaros rhineceros: burung enggang

Label: ,

Bar

19.41 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

kerana malam
memaksa kita
menghormati perjamuan
maka kupilih lampion dan piala
sebagai menu pembuka

dan senyummu
terasa mahal
jatuh
di meja bar

dan matamu
menyipit
menyisir cara kerjaku yang rumit
sebagai pramusaji
yang mengasong cawan smara

“cawan smara” katamu
pada akhirnya

Label: ,

Sebangau

19.40 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

betapapun
aku paham tanah ini
orang selalu saja keji
memilirkan kayu
memilirkan hati

Label: ,

Makrifat Sungai

19.38 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

Makrifat Sungai 1

aku berkapal, sepagi tadi
sesiang ini
menyusuri sungai
dan kupastikan
bahwa aku tidak pernah
melupakanmu

dari dek ini
kutangkap aurat tepian
yang menjaga genit perawan
mandi berkain basah
berhati basah

amboi
aku kembali memastikan
bahwa syahwatku telah basah
oleh sebab mengintipmu
di sungai



Makrifat Sungai 2

seumpama perawan
engkau berhasil merampas
kelaminku

(di sini
di tepi mahakam
kutanggalkan seluruh pakaian
dan seumpama lelaki
aku bersampan)

ah perawan
sembunyikanlah pakaianku

Label: ,

Laki

19.37 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

lakiku
bertiang ulin
merawat tubuh
dari aurat tahun
yeng menyampah
di perairan
di tanah

dalam hitungan waktu
lakiku menyusun rindu
selaiknya perahu

dalam balutan waktu
lakiku berkahwin cemas
bahwa di seberang kalender
debit sungai akan menipis
dan pasang laut
mengasinkan mulut

saat itu
sesiapa pun akan rapuh
oleh takut
oleh mimpi
yang menubuh

tapi memang
lakiku
bertiang ulin
tak terjangkau marah sungai
sebab ia menjangkau
cumbu sungai

Label: ,

Samarinda

19.36 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

la mohang daeng mangkona
melaksanakan titah sultan kutai
sambil menata adat bugis

“orang bugis orang kutai
sama rendah sama semampai”

dan simaklah
jilatan sungai terlalu bergairah
mencumbu lamin mengawini tanah

dan jika saatnya nanti
anak turun pua ado
mendirikan masjid
orang kutai menyusun empat tiangnya

“orang bugis orang kutai
sama-sama menjunjung agama”

lalu
siapa yang akan mulai berani
menjual rumah ibadah
meninggikan atap instansi
sembari merendahkan sejarah?

Label: ,

Panji Selaten

19.35 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

adil raja karena desanya
lalim raja karena desanya
adil desa karena rajanya
lalim desa karena rajanya

karena itu
raja haruslah menurut mufakat
sekaligus tiang mufakat

begitulah asal sememangnya
walaupun pada nantinya
banyak raja mengarang mufakat
sekaligus membuang mufakat

Label: ,

Awang Long

19.34 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

awang long
ditemani laskar melayu
ditemani pasukan dayak
ditemani laskar bugis
menari
di sungai

“nanda senopati
tahukah engkau hikmah negeri?”

pada coklat air kali
perempuan-perempuan rajin mandi
dan desamu berseri-seri

tapi pada coklatnya juga
engkau tahu
kapal musuh lengkap bertentara

“nanda senopati
tahukah engkau hikmah air kali?”

awang long
di sungai
bukan senopati

Label: ,

Makrifat Acheh

19.30 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

Makrifat Acheh 1

ada yang mendekatkanku padamu
seperti cinta mendekatkan pengantin

ada yang mendekatkanku padamu
aroma mayat
mendegupkan tari sufiku
meneguhkan fani tubuhku



Makrifat Acheh 2

kucemburukan
kematian yang memesona
yang mengejutkan religiusitas
yang menghentakkan moralitas

“sejauh manakah kaufahami ujian dan derita
sampai kaukatakan bahwa kau berperikemanusiaan
sejauh manakah kaualami ujian dan derita
sampai kaukatakan bahwa kau telah beriman?”

allah
betapa dungu religiusitas kami
betapa bebal moralitas kami
jika masih saja menawar
untuk mencinta sesama
untuk tak menindas sesama



Makrifat Acheh 3

amboi
tubuh-tubuh yang bergelimpangan
kalian memahatkan kenangan
anak yang kehilangan ibunya
laki yang kehilangan perempuannya

sebagaimana lalu kami pahatkan
kenangan pribadi
tentang sufi yang kehilangan
diri sendiri

Label: ,

Acheh Nampar

19.29 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

ya hayyu ya qayyumu
kalau hari ini tubuhku tercabik, bukan baru hari ini tubuhku tercabik
kalau kali ini badanku terkorban, bukan baru kali ini badanku terkorban

tubuhku telah lama robek oleh keserakahan nafsu
badanku telah lama menjadi korban pertarungan ambisi dan kuasa
arunku, hutanku, kakaoku tak mampu lagi meronta dari luka
orang-orang tak berdosaku tak kuasa lagi mengucap kata
karena popor dan senjata terlalu cepat berbicara

setiap hari nyawa orang menjadi bahan mainan
“buat apa sekolah, nanti juga mati di jalan
ditembak orang
mati tak dikenal”

amboi, betapa akrabnya aku dengan derita dan derita,
kematian dan kematian
ya hayyu
akankah selamanya kaupilihkan bagiku jalan hidup yang seperti ini
akankah hanya dengan coba semacam ini kautinggikan maqam imanku

setahunan lalu, pantai bireuen-ku dikejutkan dengan mayat-mayat
terbungkus karung beras
terdampar dihempas ombak
(mereka adalah yang kaupilih menjadi saksi dari kebiadaban segelintir
yang dibebalkan oleh nafsu kekuasaan)

hari ini, bukan hanya pantai-pantaiku, bahkan segenap sisi kota-kotaku
jalan rayanya, selokannya, tanah lapangnya diratusribui hempasan mayat
(mereka adalah yang kaumuliakan menjadi saksi dari kuasamu
menampar kebebalan nafsu)

tahun-tahun lalu, bukit-bukitku, hutan-hutanku, sungai-sungaiku,
laut-lautku menjadi saksi
dari nyawa-nyawa yang selalu saja melayang tanpa nama
kali ini, dalam sekejap saja, kembali harus kupersaksikan
ratusan ribu nyawa melayang tanpa nama
(kiranya merekalah syahidin
yang ingin kau bergegas merengkuhnya dalam pelukmu)

kemarin dulu, di salah satu kampungku
mayat muzakir abdullah tersampir+terikat di pohon
lehernya tergorok darahnya menoreh di dada
(al hallaj-kah dia
dihantarkan segerombol orang bertopeng yang brutal menyiksanya
tanpa salah dan dosa apa pun telah dilakukannya)

hari ini, beberapa mayat yang tak sempat menyebut nama
tersampir di pohon-pohon di kota-kotaku, tubuhnya membeku biru
(al hallaj-kah mereka
berperantara ombak yang kaukirim untuk menjemput
mereka hanyut kepadamu tanpa salah dan dosa yang menyisa)

ya hayyu
betapa tingginya maqam mereka
yang menghadapmu dengan seketika
yang menghadapmu bersama-sama

ya qayyumu
betapa rendahnya maqam yang lainnya
yang masih saja tak tersentak hatinya
yang masih saja bebal jiwanya
menggenggam nafsu rendah menumpuk amarah
mengumbar kuasa

ya hayyu ya qayyumu
kupersembahkan tubuhku kepadamu
moga kemudiannya
kauselamatkan jiwaku
dari murkamu

2004

____
catatan:
1. data tentang mayat-mayat terbungkus karung beras di pantai Bireuen dan Muzakir Abdullah yang disiksa dan diikat di pohon adalah diambil dari majalah acehkita edisi 15 januari 2004.

Label: ,

Tajau Pecah

19.28 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

ini pengajian tauhid
“asal tajau dari tanah
maka ia mudah pecah”

kami rindu perempuan
mandi berkain basah
di sungai yang masih luput
dari sengketa

aku
—bersama orang-orang
yang tidak terlibat perang
berebut tanah negeri—
mencoba merawat rindu
dan mengaji statistik

kami genggam sejumput bumi
dengan nusea patriotik
kami simpan untuk berkubur

___
tajau: genthong/tempayan
Tajau Pecah: nama desa di pedalaman wilayah Kab. Tanah Laut, Kalsel

Label: ,

Tajau Mulia

19.27 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

ini pengajian tauhid
“asal tajau dari tanah
maka ia mulia”

kembali ke selera asal
negeri tanpa birahi ekonomi
orang banjar mengaji mandau
orang madura mengaji badik
orang jawa mengaji sabit

tapi tanah terlanjur tandus
buat berladang
dan kami tak punya saham
buat birahi

maka
buat memuliakan negeri
kami membakar bukit

___
tajau: genthong/tempayan
Tajau Mulia: nama desa di pedalaman wilayah Kab. Tanah Laut, Kalsel

Label: ,

Etnofotografi

19.26 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

sekerumun etnik
mengasah pisau
menaikkan panji

dan buku sejarah lapuk berdebu
orang tidak membaca
cara musa menjagal pemuda
dan menggiring gembala
(dengan lidah tidak sempurna
ia berkata: ya bani israila)

sekerumun etnik
mengasah pisau
“kata koran, kawan kami
ditikam orang di jalan raya”

sekerumun etnik
menaikkan panji
“seseorang menceramahi kami
seseorang menafkahi kami”

sekerumun etnik
sama sekali
bukan etnik

Label: ,

Orang Kada Balampu

19.24 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

“kami tak pernah memuja mandau
tak pernah menyanjung badik”
orang kada balampu
tertulis di kitab yaumiyah
mengasuh lapar
tanpa pernah punya pekerjaan
menjarah penghasilan orang
tanpa menghiraukan tanah asal
orang kada balampu
memulakan pertikaian
bukan untuk bertikai
asah badik cabut mandau
bukan menyulut perang
orang kada balampu
tak membunuh madura
banjar, dayak, bugis, jawa
orang kada balampu
semata membunuh manusia

___
kada balampu (bhs. Banjar: tidak berlampu): julukan bagi segerombolan perompak/tukang onar di Kalimantan

Label: ,

Aktivis Feminisme & Liberalisme

19.24 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

seorang syeikh diinterogasi
oleh para aktivis liberalisme & feminisme
karena ia dianggap melanggar HAM
karena ia memaksakan cinta

tapi
seorang syeikh takkan menginterogasi
para aktivis liberalisme & feminisme
meski mereka memaksakan HAM
meski mereka melanggar cinta

(kita paham
seorang syeikh tak mampu berbuat apa
sebab para aktivis liberalisme & feminisme
memiliki funding teramat kuatnya)

Label: ,

Fatima Mernissi

19.22 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

sesekali aku
menjamah fatima
mernissi
ia paham syahwat lelaki

fatima mencari nafkah
aku memperindah meja tamu
dan malam datang ringkas
setelah siang diperpanjang
oleh etos kerja
dan ilmu pasti

la raiba
tanpa ragu
kami pun
saling menjamah

Label: ,

Fatima Zahra

19.20 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

perempuan di dalam masjid
tak seorang pun mengalahkannya
kecuali ruhul jihad

di sini siang malam
terjahid perjuangan
uraian dendam dan sahaja
seorang ibu, ibu agama

nikmat air matanya
mengukir sajadah
sebagai pembalut kerja
sebagai pembalut logika

perempuan di dalam masjid
mengulum seluruh sejarah
: melahirkan dua lelaki

la raiba
dialah fatima
dialah zahra

Label: ,

Catatan Negeri

19.19 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

1
tepatkah negara berduka
ketika penguasa yang bijak
menggusur perkampungan warga

lihatlah
beberapa mayat bayi mengapung
di sungai yang berbau limbah
menguarkan kejelataan



2
aku bahkan tak sempat menangis
jika ada gadis manis
ditarik paksa petugas berseragam
hingga sobek badan perempuan



3
hallo
anybody home?

(tidak ada jawaban
syahdan
sufi sedang berganti pakaian)

Label: ,

Sufi dan Kepala Negara

19.18 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

Sufi dan Kepala Negara 1

seorang sufi
menulis surat kepada kepala negara

wahai kepala negara
aku ingin meringankan bebanmu
memimpin rakyat

caranya: bunuhlah aku
atas nama rakyat



Sufi dan Kepala Negara 2

jika pemimpin negeri
menyuruhmu memikirkan negeri
jawablah: akan kami penuhi

memikirkan negeri
memanglah tugas para sufi
sejak para pejabat dalam birokrasi
tengah sibuk dengan diri sendiri

kemudian
tanpa disuruh pun
telah jatuh kewajiban kepada sufi
memikirkan pemimpin negeri
yang tak mampu
memikirkan negeri

Label: ,

Intelektual dan Sejarah

19.17 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

sempatkan dirimu
untuk memikirkan negeri ini
sebagaimana engkau
memikirkan budi dan hati

(kulihat
engkau mulai menulis
sebuku epos atau sebait puisi
tentang keraguanmu
kepada negeri ini
dan keraguan negeri ini
kepada budi dan hati)

dan sebagaimana
engkau meragukan negeri ini
negeri ini pun
meragukan tulisanmu

Label: ,

Sufi, Tuhan, Pejabat Negara, Tentara Bersenjata

19.16 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

sebelum sufi mengenal tuhan
ia takut kepada pejabat negara
ia takut kepada tentara bersenjata

setelah sufi mengenal tuhan
ia takut menjadi pejabat negara
ia takut menjadi tentara bersenjata

Label: ,

Warga Negara

19.14 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

aku berdoa untuk halaqahku
sebelum salam sampai
“beri kami kekuatan
untuk bayar pajak
dari tubuh kami yang renta
bagi pejabat yang bijak
mengelola kekayaan negara”

aduh
aku lupa
tidak berdoa untuk halaqahku
“beri kami kekuatan
untuk menjadi warga negara”

Label: ,

Al Hallaj

19.13 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

1
aku berkabar pada tuan
bahwa cinta memabukkan

sehingga aku terpesona
pada penindasan
kemanusiaan



2
jangan mencari tahu
sebab kemurtadanku
(aku murtad
setelah imanku dibunuh)

jangan mencari tahu
siapa pembunuhku
(aku tetap hidup
bersama fatwa
dan kata-kata)

jangan mencari tahu
rahasia kata-kata
(aku memberi minum
orang yang haus
aku memberi makan
orang yang lapar)



3
saksikan
aku melepas jubah sufi
kugantung bersama syahwat
kemiskinan orang yang tertekan
kesengsaraan orang yang terlibas

aku
tidak berpihak pada sultan
dan tuhan

Label: ,

The End of Capitality

19.12 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

lagi-lagi
aku ditampar oleh logika kapitalisme

seorang kawan
ingin berkonsultasi tentang rindu
ia mendatangi banyak syeikh
dan tak pernah bisa bertemu

pada puncak pencariannya
ia berkabar
“bila kau
tidak bisa menemu seorang syeikh
belilah seorang syeikh”

kemudian
kawanku tidak pernah lagi
sakit rindu

Label: ,

Toko Buku vs Kota

19.10 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

seseorang
sebab asa ketuhanan
mendengkur
di sudut teka-teki
referensi-referensi glamour

ini kotaku
terbaca oleh atlas kumal
beberapa ruasnya
menyisa tembok tua
yang mengelupas
berberita sejarah pemikiran
kaum selebriti urban
yang etis dan pendendam

dari sebelah labirin rak
selembar kertas tanggal
dan terlempar
tepat di traffic light
lampu kuning
amsal dinamika kota
dalam percepatan komunikasi
dan silaturahmi seluleri
tidak hidup
tapi hidup

(aku membuka literatur
kaidah fiqhiyah yang rumit)

sore berselimut asap dan oktan
dan suatu bacaan
perihal seks yang nyinyir
atau politik yang slapstik
memerdekakan imajinasiku
berkhalwat dengan hantu

wahai
siapa membuka pintu tasawuf
siapa memuja pagar demokrasi
siapa berbekal ilmu transaksi
meneror inspirasi laki-bini?

sementara orang memendam
hasrat untuk kaya-raya
aku sempat membunuh majikan
di sebaris fiksi
berjudul “okultisme dari utara”
atau “kapitalisasi yang adolesen”

ini kotaku
merdu semata
dalam ensiklopedi

Label: ,

Khalifah

19.03 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

Khalifah Ali
--abdurrahman wahid

ali pemimpin cerdas
dari bijaknya
lahir mantiq dan perbalahan
dan akhlaq kekuasaan

dan bukankah
ia ditikam dari belakang?



Khalifah Umar
--abdurrahman wahid

suatu malam
umar mencuri gandum
dari gudang negara
(karena di sudut kampung
si sebuah rumah
seorang ibu memasak batu)

jangan
jangan mencuri gandum
di sini
di negara yang menjunjung
koridor hukum



Irrational Order
--abdurrahman wahid

seorang syeikh
penggenggam rasionalitas mitologi
terbunuh
oleh mitos politik rasional

selamat jalan
syeikh
yang rasional
yang mitos
selamat jalan

Label: ,

Kretapi

19.02 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

aku beroleh inspirasi
dari seorang wali yang naik kretapi
katanya: kretapi tak membawamu
ke mana-mana
karena kretapi pergi pulang melulu
dari mana kembali ke mana

karenanya
dan karenanya
jika engkau hendak belajar pekerti
janganlah ambil ibrah
pada rutinitas
dan kuantitas pulang pergi
tapi ambillah ibrah
pada setianya
setianya

Label: ,

Mahabbah dan Syahwah

19.00 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

--andien, engkau
jauh dari jangkauan
tapi garis bibirmu
rawan kukenang

apakah engkau belum percaya
bahwa iman perlu diuji coba
dan mahabbah bukan soal coba-coba

dan apakah engkau masih percaya
aku rajin membangun syari’at
kujadikan rumah bagi labil syahwat

Label: ,

Vagina (Mawaddah, Rahmah)

18.58 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

sebagai petani
aku suka bertanam ilmu

kemudian
oleh sebab banyak berlatih
serta mengamalkan nasihat fiqh
aku fahim peta sawah
tempat gembur tempat basah
tempat sufi menenggala wahdah

di situ
mawaddah tumpah
di situ
kusibak rahmah

Label: ,

Teman Selingkuh

18.58 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

kutunggu kau, teman selingkuh
di sisi taman di sudut perpustakaan
kita kan bercengkerama
sembari memperluas bacaan
sehingga genaplah makna setubuh

hei, tubuhmu menggelembung
aku suka itu
engkau mengandung ilmu

dan engkau pasti percaya
akulah yang memiliki tugas
melahirkan fatwa + merawat berita

Label: ,

Belajar Tasawuf

18.55 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

Alda
(Belajar Tasawuf 1)

aku tak biasa
nerjemahkan khidmat yang dewasa
sehingga rona ilmiah perempuanmu
meradang di pusat riadlahku

aduh, engkaukah tasawuf itu?

bila kau tiada di sisiku
akulah kanak-kanak paling lucu



Yanti
(Belajar Tasawuf 2)

mencintaimu
menghabiskan seluruh keringatku

rinduku pun heran
nggelandang di sekujur badan fatwamu
pada ketika
sampai aku di ladang syar’i
bulu matamu menari rumi

tasawufkah engkau?
segalanya teramat berarti



Sarah
(Belajar Tasawuf 3)

peluk aku
sebelum kuhamburkan bisi
tentang rahsia bayi manusia
dan bunyi shalawat

cium aku
karena aku petani
bertanam khalwat
menuai fiksi birahi

bawa aku
memanjangi alur kaki bidari
dan tatap yang beringas
dan sungging yang antusias
menduga-duga tasawuf itu



Cici
(Belajar Tasawuf 4)

datanglah sayangku
tubuhku lepuh
oleh peluh ruhanimu
hadirlah kasihku

betapa indahnya
salam dari masyuq
mendamprat asyiq
“kalam ini merindumu”

amboi
seperti tahi lalat
terperincikah tasawuf?

Label: ,

Kemaluan

18.52 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

adik
bibirmu
menebal doa

kukenang
iman yang jantan
memanjakan kita
matangkan liar senggama

(kuteguk semangkuk tasawuf
tak sebagai asa yang memalukan)

adik
gigimu
merusak tata-tertib cinta

kukenang
iman yang mulia
tidak akan mengutuk
simpang-siurnya fatwa

(kuteguk secangkir rindu
dengan agak malu-malu)

Label: ,

Biduk

18.35 / Diposting oleh Amien Wangsitalaja / komentar (0)

Amien Wangsitalaja

1
suatu hari
aku menghadiahi kapal mainan
berbahagialah anakku pertama
karena memiliki teman bercanda

kapal itu, kataku
tidak akan berangkat tanpa keyakinan



2
istriku meragukan
makna keceriaan anakku kedua
karena ia tertawa
setelah kapal mainan jatuh terlempar

aku ragu, kata istriku
apakah tiang layar tak bisa patah?



3
segera kusembunyikan kapal mainan
sengaja aku ingin menggoda
agar kedua anakku marah
dan istriku masam-masam cuka

hai, kataku
siapkan pelampung



4
kupikir
aku seorang pelaut
dengan membeli kapal mainan
dan membincangkan laut

tanpa ombak, kataku
laut bukan laut

kupikir
istriku mudah berang
jika kapal mainan sering tenggelam
dan hatinya pun

kukutuk malam, katanya
kenapa orang suka berlayar

Label: ,