Amien Wangsitalaja
--kutandai, inilah ranah sufi
di kota tempat kita menangkar
asmara
aku berhasil
mengukur kerudungmu yang lebar
mengukur rahasia
aku melamunkan kiswah
dan hitam hajar
aku melamunkan hatimu
yang sejak dari ruknul yamani
sudah kuincar
inilah
ranah sufi
bisikku pada gamismu yang besar
saat hujan membuat sadar
ada syahdu datang berdenyar
(saat itu
aku teringat pada sejarah
di kota haram
gerimis pun jarang tumpah)
ssst, ini rahasia
”aku menemukan marwah”
”aku menemukan mar-ah”
lihatlah
kepalaku
tersungkur
di jabal nur
di jabal rahmah
dan di ghari hira
inilah
Amien Wangsitalaja
Mendirikan Malam 1
aku
yang pertama mendengar dendang dinda
pada malam
yang kita ingat ia pernah dibagi tiga
ini mungkin pada sepertiga yang kedua
saat jam beranjak dari angka kosongnya
aku mengaduk tasawuf akhlaq
di dalam tiris nafasmu
yang membasahi ceruk rindu
kemarilah kubisiki, sayang
ada hasrat berundan-undan
semizan syariat seribu bulan
ini mungkin pada sepertiga yang terakhir
kuseduh dzikir kuramu syi’ir
di palung mahabbahmu
di palung mahabbahmu
laut asin mengingatkanku pada khidzir
aku berjanji
aku tidak akan banyak bertanya padamu
senyampang malam
saat kita sepakat melubangi sampan
kemarilah sayang, kubisiki
Mendirikan Malam 2
aku
meminangmu untuk menjadi ‘aisyah
sehabis khadijah
o sayangku, yang kemerah-merahan
tertunduk diam
kita menghitung detak jam
derit daun pintu
dan desah yang disapukan
kita merundingkan bilangan raka’at
di sepertiga terakhir
malam
dan dengan manja
engkau menawar bilangan dzurriyyat
melebihi ’aisyah melebihi khadijah
sepadan angan
o kurasa
aku ingin memukulmu bertubi-tubi
menggemaskan
Amien Wangsitalaja
Pengantin (1)
aku gemas pada hud hud
yang gemetar mengabarkan pesonamu
aku gemas pada pemilik ilmu
yang berhasil menyatakan
singgasana kecantikanmu
lebih cepat dari kedip bola mataku
dan
aku lebih gemas padamu
kerana engkau 'lah sudi mengunjungi
relung istanaku
maka
kutawarkan lantai hati
yang sejernih kolam
sehingga betis asmaramu
tersingkap
Pengantin (2)
aku memang merencanakanmu
menjadi zulaikha
dan saat itu
aku ingin gamisku sobek
di bagian depannya
di bagian belakangnya
sehingga kita tak perlu
merekayasa perjamuan
agar jemari orang-orang teriris pisau
menyaksikan syahwat yang tampan
Amien Wangsitalaja
makinlah rinduku pada laut
manakala
kauceritakan gesekan lempeng bumi
dan ombak kasihmu
saat itu aku terbiasa
bermain buih di pantai yang asin
“aku menelan ikan
kubuat tersesat di lubuk gelap”
senyummu menyelesaikan cerita
antara terpejam mata
lalu kurasa keringat tetes, meresap
ke tanah yang bergetar
ke episentrum
“besok lagi jangan lupa
menjenguk laut”
Amien Wangsitalaja
kurasakan hangat dadamu
hangat dada fatimah
karena kisahku menyerupai bocah
yang berlumuran darah
melintasi gurun
menyeberangi fitnah
o, sapukan nafasmu
segairah nafas ummil bathul
karena aku tak ingin tersungkur
seperti ‘ali, sehabis sahur
mari bersaksi
akulah syahid
engkau syahidah
tanpa ditikam belati
tanpa luka hati
dan kita menjadi tuan dan puan
bagi sejarah
melahirkan bocah-bocah
tanpa racun
tanpa tombak tanpa pedang
tanpa segurat lelah
Amien Wangsitalaja
pada suatu ketika
aku memang menghikmati nafasmu
yang tak memburu
di lantai ulin
kamar tamu saat siang
tempat guring saat malam
kita tak merencanakan cinta
tapi matamu
melebihi buluh perindu
yang kuangankan ada dalam gelas
yang kausajikan untukku
”inilah gadis senja yang merana
terpikul kegundahan yang lama
kata mengalir di dada lembutnya
menebar spora, lembar cinta”*)
o, jangan merana
bukankah rembulan pun memilihmu
—kuingat waktu itu
kita seperjalanan
antara samarinda-bontang
dan rembulan sedang teramat terang
melumat wajahmu sepenuh cemburu
dengan sesekali mengintai di bukit
dan sembunyi di balik dahan—
di lantai ulin
kita tak merencanakan cinta
kerana ia tiba-tiba
sebagaimana pada suatu ketika
kita tiba-tiba bisa bersama
menyaksikan belian
di desa jahab di sudut kotaraja
kutai kertanegara
—ceritamu, kakek dari mama
dahulu
seorang dukun belian juga—
dan kau bercanda
”datangi ia
tidur di depan tariannya
mintalah disembuhkan
dari penyakit cinta”
aku berkerut oleh candamu
tapi tak ragu-ragu
”seperti belian
cinta memiliki kekuatan”
pada suatu ketika
___
*) penggalan bait puisi ”Gadis Senja” Fitriani Um Salva
belian: upacara penyembuhan dalam tradisi orang Dayak
guring: tidur (bahasa Banjar)
Amien Wangsitalaja
jika aku pantas
menuai bahgia ini
izinkan aku
kembali
dan
kusadap rahsia waktu
yang tlah merapuhkan egoku
di hadapan pesonamu
dan
seperti segarnya pagi
kuasyiki keceriaan
rona fitri
Amien Wangsitalaja
kupercaya hadirmu
memperbesar kemungkinan
luruhnya angkuh
redamnya dendam
dan bersama waktu
egoku rapuh
leh pesonamu
ramadhan
Amien Wangsitalaja
--esti
kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai
aku
dengan perahu sampanku
pernah sangat setia menyibak riak
menyisir nostalgia
kala angin semilir atau kencang
kala mentari hangat atau menyengat
dan air pasang
dan air surut
begitulah
terlalu aku menyanjung sampan
menggauli tanjung
kerana bagiku
riwayat sungai
dan ketenangan
amatlah berarti
tapi kenapa
kau menggali lukaku
sedalam kenangan sungai
Amien Wangsitalaja
intiplah bulan itu, ukhti
kerana ia tersenyum
saat kurangkum dalamnya dekap
dan kau mulai bercerita
dengan ceria
tentang tempat
yang purnama bisa makin ada makna
“di kotaku” katamu
ya, di kotamu
di tubuh kotamu
di tubuhmu
dan tidakkah kaulihat
aku sudah mulai membuka pintu
menatap kota
menatap tubuh kota
menatap tubuhmu
“ada makna” kataku
dan kau tersenyum
bersama bulan yang terlihat
dan dalamnya dekap
ya
Amien Wangsitalaja
Habiba dan Pencuri (1)
habiba, kucuri senyum kecilmu
dari dalam keseronokan rumah
yang mengunci sejarah
dan mengemas dongeng sebelum tidur
saat itu
aku masih sering melucu
mengangankan pintu kan mengurungku
habiba, aku telah meraba jendela
saat kuhirup aroma bibir mempelai
yang mengingatkanku pada hujan
yang tak mungkin bisa ditahan
habiba, barangkali delik matamu
tepat menghunjam di jantung sufiku
tapi sempatkah kaukenal
sederhananya angan pencuri?
Habiba dan Pencuri (2)
kau mengingatkanku pada mimpi
yang urung kutafsirkan kemarin malam
begitulah, setiap kuselidik bibirmu
dengan lukisan tipis dari air ilmu
aku tergetar untuk memungut kembali
khasanah nafsu
yang pernah kusimpan di guci waktu
Amien Wangsitalaja
Sketsa Gempa Sketsa Keluarga (1)
zaujati, inikah rumah kita?
dinding batu runtuh
meja tamu tak lagi utuh
inikah ranjang yang kemarin?
hilang tanda rindu berpagut
Sketsa Gempa Sketsa Keluarga (2)
ayah
aku dihantui guruh batu
dan kabut debu
saat itu
aku merasakan hati ibu
ayah
ambilkan buku catatanku
di bawah reruntuh dinding dan pintu
saat itu
hadirmu sangat berarti bagiku
Sketsa Gempa Sketsa Keluarga (3)
aku akan membangun rumah baru
kelak kautahu
rumah yang kaurobohkan dahulu
menyibak pondasi rindu
Amien Wangsitalaja
Perawan Lamin 1
--anna bell
mungkin kauherankan sugunku
ketika kumasuki lamin
dan kusaksikan engkau menari
menari
mengumpulkan mimpi
aku tertegun
pada peluh yang kausangkal
dapat meneguhkan syahwatku
dan sementara geliat tubuhmu
mengetuk-ngetuk lantai
aku tegak
dalam syahwat
dalam sugun
___
lamin: rumah panjang orang Dayak
Perawan Lamin 2
kupanggil saja kamu anna
tapi kamu memang manis
duduk di sisi lamin
menyorongkan manik-manik hati
aku terpedaya
tak kuasa menawar harga rindu
aduh
kupanggil saja kamu anna
kerana aku ingin melihatmu menari
mengepakkan lengan
menyibakkan kaki
aku silap
tak kuasa menjinjing angau
aduh
Amien Wangsitalaja
mengapa harus iri
pada eusideroxylon zwageri
sedang senyum yang pernah kaugenitkan pada sufi
kian menguat oleh hujan dan terik mentari
ini tentu bukan mimpi
saat kusentuh tangga lamin yang bahari
aku telah belajar menakik hati
dan kupastikan sesaat lagi
rambutmu menyibak menggerai
kerana aku mulai mendaki
___
eusideroxylon zwageri: ulin
Amien Wangsitalaja
“bucaros rhinoceros
ngangkasa nerobos eros”
biarkan aku terus menyanjungmu, puteri
dan kuselipkan bulu enggang di sisi kiri
engkau tahu
dan harus tahu
dalam bujukan metafisika yang jalang
aku selalu saja kembali merasa lajang
___
bucaros rhineceros: burung enggang
Amien Wangsitalaja
kerana malam
memaksa kita
menghormati perjamuan
maka kupilih lampion dan piala
sebagai menu pembuka
dan senyummu
terasa mahal
jatuh
di meja bar
dan matamu
menyipit
menyisir cara kerjaku yang rumit
sebagai pramusaji
yang mengasong cawan smara
“cawan smara” katamu
pada akhirnya
Amien Wangsitalaja
betapapun
aku paham tanah ini
orang selalu saja keji
memilirkan kayu
memilirkan hati
Amien Wangsitalaja
Makrifat Sungai 1
aku berkapal, sepagi tadi
sesiang ini
menyusuri sungai
dan kupastikan
bahwa aku tidak pernah
melupakanmu
dari dek ini
kutangkap aurat tepian
yang menjaga genit perawan
mandi berkain basah
berhati basah
amboi
aku kembali memastikan
bahwa syahwatku telah basah
oleh sebab mengintipmu
di sungai
Makrifat Sungai 2
seumpama perawan
engkau berhasil merampas
kelaminku
(di sini
di tepi mahakam
kutanggalkan seluruh pakaian
dan seumpama lelaki
aku bersampan)
ah perawan
sembunyikanlah pakaianku
Amien Wangsitalaja
lakiku
bertiang ulin
merawat tubuh
dari aurat tahun
yeng menyampah
di perairan
di tanah
dalam hitungan waktu
lakiku menyusun rindu
selaiknya perahu
dalam balutan waktu
lakiku berkahwin cemas
bahwa di seberang kalender
debit sungai akan menipis
dan pasang laut
mengasinkan mulut
saat itu
sesiapa pun akan rapuh
oleh takut
oleh mimpi
yang menubuh
tapi memang
lakiku
bertiang ulin
tak terjangkau marah sungai
sebab ia menjangkau
cumbu sungai
Amien Wangsitalaja
la mohang daeng mangkona
melaksanakan titah sultan kutai
sambil menata adat bugis
“orang bugis orang kutai
sama rendah sama semampai”
dan simaklah
jilatan sungai terlalu bergairah
mencumbu lamin mengawini tanah
dan jika saatnya nanti
anak turun pua ado
mendirikan masjid
orang kutai menyusun empat tiangnya
“orang bugis orang kutai
sama-sama menjunjung agama”
lalu
siapa yang akan mulai berani
menjual rumah ibadah
meninggikan atap instansi
sembari merendahkan sejarah?